Harapan yang Hilang

Aku Rena , cewek berusia 15 tahun yang sering dipanggil Ena oleh temanku , sejak kecil , diriku sudah ditinggal ayah dan ibuku , ayah meninggal karena serangan jantung , sedangkan ibuku meninggal saat melahirkanku. Aku tinggal bersama bibiku di Jakarta. Aku bersekolah di SMA Negeri 56 Jakarta Selatan , diriku baru saja masuk sekolah.
Saat pertama kali masuk sekolah , aku merasa disampingkan. Terlebih diriku hanya cewek yang biasa saja , aku tidak sebaik cewek-cewek lain yang memiliki tampang yang cantik. Teman – teman cowokku juga banyak yang ngefans sama mereka , salah satunya adalah Rika , dia sangat disukai oleh banyak cowok di kelas. Bahkan kakak kelas pun tergila-gila padanya. Aku sebenarnya ingin punya pacar di kelas , tapi aku tidak tahu kapan aku mendapatkannya.
Saat perkenalan , pandangan mataku tertuju kepada seorang cowok yang bernama Rizal , menurutku dia sepertinya cowok yang cocok untuk mengisi hatiku. Aku pun berkenalan dengannya.
“Hey , kamu Rizal ya ?” Aku bertanya.
“Iya , kamu siapa ?” jawab Rizal.
“Aku Rena , lam kenal ya” kataku.
“Ya , sama – sama” jawab Rizal.
Aku senang sekali saat berkenalan dengannya , hatiku tiba-tiba bergetar , seolah-olah ada satu pertanda akan cinta. Entah kenapa , ketika dia berdekatan dengan cewek lain , diriku merasa cemburu.
Hatiku bertanya-tanya , “mungkinkah ini yang namanya cinta?”

Tapi , yang namanya cinta tidak semudah membalikkan telapak tangan , perlu perjuangan dan waktu , aku pun harus menunggu untuk mendapatkan hati Rizal.
Waktu pun berlalu cepat sekali , tidak terasa sudah 1 bulan aku bersekolah di sana , dan aku juga semakin tahu sifat Rizal. Saat itu , Rika sedang bersedih karena dia baru saja putus dengan pacarnya , aku pun belajar untuk tahu bagaimana rasanya putus cinta. Tiba-tiba , Rizal pun mendekati Rika , dia mencoba menenangkan Rika , termasuk diriku yang sesama jenis , dia pun akhirnya bisa tenang. Aku makin suka dengan perhatian Rizal , dia mengerti perasaan seorang wanita.
Aku pun mendekatinya , ingin rasanya aku menyatakan cinta kepadanya , tapi aku sangat malu untuk menyampaikannya. Tapi , aku harus melakukannya.
“Zal , ada yang ingin aku katakan sama kamu” kataku dengan malu.
“Emang apaan gitu Na ?” kata Rizal.
“Mmm , apa ya ?” mukaku memerah.
“Kamu kenapa Na ? Sakit ?” kata Rizal.
“Engga , aku cuma pengen bilang ....” kataku.
“Iya , bilang apaan ? panggil PMR ?” canda Rizal.
“Aku suka kamu Zal ...” kataku sambil kabur.
“Hah ? apa Na ? kamu suka ma aku ?” heran Rizal.
Aku sudah bilang kepadanya bahwa aku suka sama dia , tapi , setelah aku mengatakannya , Rika terlihat cemburu denganku , dia berpura-pura mengeluh sakit , Rizal pun menolong dia dan dibawa ke ruang PMR.
Setelah Rika sadar , Rizal pun menyuruhku untuk membelikan obat di apotek. Ketika itu semua murid sudah pulang , tapi diriku tetap setia mendampingi Rizal. Dan ketika sehabis membelikan obat , diriku kembali ke ruang PMR , betapa kagetnya aku ketika melihat Rika dan Rizal berpegangan tangan , aku sangat cemburu melihat dia dan Rika berduaan dan berpegangan tangan. Aku pun tidak terima dan berlari meninggalkan mereka , Rizal pun mengejarku keluar , aku pun tidak menyadari diriku berlari menuju jalan yang sangat sepi , tiba-tiba sebuah mobil melaju tepat di sebelah kiriku , dan Brakk , aku ditabrak mobil tersebut dan mobil yang menabrak diriku pun kabur.
Disana , aku tidak sadarkan diri , tiba-tiba Rizal memelukku dan berkata : “Na , bangun Na , kamu harus bangun !”
Aku pun menghiraukan apa kata Rizal , percuma hatiku berkata aku menyayanginya , tapi dirinya menyayangi Rika.
Aku pun dibawa ke rumah sakit , dan aku pun dioperasi , saat malam aku pun sadar ...
“Dimana aku ?” kataku.
“Kamu di rumah sakit , kamu dibawa oleh temanmu” kata dokter.
“Siapa ? aku tidak punya teman” kataku lagi.
“Tapi dia sudah memberi tahu orang tuamu kok” jawab dokter.
Tiba-tiba Bibiku datang , dengan mata berkaca-kaca , dia berusaha menutupinya dengan senyuman yang terpancar di bibirnya , dia tahu aku telah menderita luka yang serius di bagian otakku , yaitu radang otak. tapi dia berkata kepadaku aku hanya menderita benturan biasa. Aku harus dirawat selama satu minggu di rumah sakit.
Besoknya , aku melihat ada seorang lelaki duduk dihadapanku sambil memegang tanganku , dialah Rizal.
“Na , kamu sudah sadar ?” kata Rizal.
“Siapa kamu ? aku tidak kenal kamu ?” kataku.
“Aku Rizal , pacarmu ..”kata Rizal.
“Pacar ? aku tidak punya pacar kok !” tegasku.
“Kamu amnesia Na , kamu itu pacar aku” kata Rizal.
Aku sungguh heran , kenapa Rizal menganggapku sebagai pacarnya , padahal aku hanya pura-pura amnesia , tiba-tiba diriku mengalami sakit yang sangat dahsyat di bagian otakku , aku menjerit tanpa arah , kemudian dokter datang , dan meminta Rizal untuk keluar ruangan. Setelah diriku tenang , bibiku pun datang dan mengatakan sesuatu padaku.
“Nak , ada yang mau bibi katakan sejak kamu dirawat” kata Bibiku.
“Apa yang mau Bibi katakan ?” kataku.
“Sebenarnya kamu itu menderita radang otak , bukan benturan biasa” kata Bibiku sambil menangis.
“Apa ? Radang Otak ?” kataku dengan heran.
“Ya , dokter bilang waktumu tidak lama lagi” kata Bibiku lagi.
“Tidak apa-apa , Rena terima kok , mungkin ini hidup terakhir Rena” jawabku ikhlas.
“Bibi takut kehilangan kamu Na , hiks....” tangis Bibiku.
Bibiku pun keluar dari ruangan , dan Rizal pun masuk dengan perasaan yang sangat sedih , sambil memegang tanganku , dia pun jujur kepadaku.
“Aku sudah tahu semuanya kok Na ...” kata Rizal dengan lirih.
“Tahu apa ?” kataku.
“Kamu tidak perlu tahu Na !” tegas Rizal.
“Kalau mau jujur , aku sayang banget sama kamu , aku cinta sama kamu” kata Rizal.
“Aku juga sayang dan cinta sama kamu Zal !” kataku sambil berusaha bangkit.
“Sudah diam Na , kamu istirahat saja” kata Rizal.
Rasa cintaku pun akhirnya sampai ke hati Rizal , aku menikmati indahnya cinta saat masa-masa terakhir hidupku , aku pun terlarut dalam kesenangan yang jarang sekali aku dapatkan. Rizal adalah cinta pertama dan terakhir bagiku. Aku berjanji tidak akan melupakan semuanya.
Waktu pun berlalu , aku mulai merasakan sakit yang sangat hebat , di pikiranku sudah mulai muncul pertanda malaikat maut akan menjemputku , semua orang disekitarku mulai menangis , disana pun hadir semua temanku dan Rizal , aku mencoba untuk bertahan , tapi aku tidak bisa.
Aku melihat cahaya berbentuk tangan yang lembut mendekati ragaku , cahaya itu mengambil rohku perlahan , dan .... diriku pun telah tiada ...
Aku diijinkan oleh cahaya itu untuk melihat kondisiku terakhir kali , dan betapa sakitnya ketika semua orang meratapi kepergianku , termasuk orang yang aku cintai , ingin rasanya aku hidup kembali , tapi inilah takdir.
Kini aku tahu tentang arti cinta yang sebenarnya , dan aku pun tidak akan melupakan cinta yang tulus dari Rizal untuk selamanya.

-THE END-

Comments

Popular posts from this blog

Rahasia Cantik Gadis Maroko

Materi Sistem Basis Data TKJ X