Cinta Terlarang seorang Sahabat
Aku adalah seorang cowok yang bernama Bimo, aku bersekolah di sebuah SMK di kota Bandung, aku tergolong cowok yang suka sekali berteman , sampai-sampai aku dikenal oleh banyak siswa lain di sekolahku, tetapi aku juga mempunyai yang sebaliknya yaitu musuh, aku memang tidak suka bermusuhan, tapi yang jelas aku ingin semuanya baik-baik saja.
Suatu ketika, aku mempunyai seorang pacar yang bernama Irna, aku ditembak olehnya saat diriku masih ingin sendiri, mengingat semua sahabatku mempunyai pacar, ya apa boleh buat? Irna pun aku terima.
Aku menjalani hubungan dengannya sangat baik, dan semua teman-teman pun merestui hubunganku ini. Tiba-tiba, aku teringat dengan seseorang yang dulu pernah aku pacari, yaitu Nitta.
Nitta berpacaran denganku hampir lama, sekitar 3 bulanan, tapi dia tidak melupakan aku, dia masih ingat denganku, aku dan diapun memutuskan untuk sahabatan, dia tidak mau aku menyebut dirinya “Mantan”.
Setelah sekian lama, hubunganku semakin hari semakin buruk, aku seringkali didiamkan olehnya, karena orang tua Irna tidak menyetujui kalau dia berpacaran, aku yang tidak mau didiamkan merasa kesepian. Tapi aku tidak sendiri, banyak teman-temanku yang bisa menggantikan dia untuk saat ini. Meski begitu, aku sendiri ingin ditemani oleh pacarku itu.
Hari pertama aku tidak begitu sepi, tapi lama kelamaan aku bosan juga di beginikan, aku pun mulai tidak betah pacaran dengan Irna, aku pun menceritakan hubunganku ini kepada semua temanku, dan semuanya berpendapat kalau aku harus bersabar dan tetap “positive-thinking”.
Sudah genap sebulan aku dibeginikan, aku makin tidak betah saja, akhirnya aku pun memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Irna, aku pun merasa hatiku dibohongi dengan semua perkataan Irna, tiba-tiba aku kaget ketika Nitta ingin menemani kesepianku ini, aku pun merasa senang mendengarnya.
Nitta setiap hari dan setiap malam sering menemaniku, dan aku merasa tidak kesepian ketika Nitta selalu ada untukku, tapi aku sendiri tidak menyangka akan sifat Nitta yang semakin hari semakin membuat aku bahagia.
Suatu ketika, aku bertemu dengan Irna, Irna berkata bahwa dirinya ingin kembali menjalin cinta denganku, aku yang kebetulan sedang sendiri pun menerima Irna lagi sebagai pacarku, dengan satu syarat dia bisa menemani aku disaat aku membutuhkan perhatian.
Dan ternyata, perkataan Irna kembali hanyalah isapan jempol belaka, dia tetap saja membiarkanku sendiri, aku pun merasa benar-benar dipermainkan oleh Irna, aku pun memberinya peringatan, dan akhirnya dia pun melakukannya.
Keesokan harinya, Irna diundang untuk menghadiri pesta ulang tahun temannya, dan aku pun diajaknya, aku pun senang sekali karena Irna akhirnya mau jalan bareng denganku. Setibanya di rumah teman Irna, aku terkejut melihat ada Nitta disana, awalnya aku hanya mengira dia tidak diundang, tapi ternyata dia juga diundang oleh teman Irna.
Sedikit aku menoleh ke wajah Irna, kelihatannya dia menunjukkan ekspresi yang sangat berbeda, dia menatap tajam Nitta dan menunjukkan rasa benci kepada Nitta, aku pun bertanya kepadanya, dan ia jawab tidak ada apa-apa.
Wajah Nitta terlihat sangat sedih, setiap kali Irna mengajakku berduaan, Nitta pun pergi, dan puncaknya ketika dansa dimulai, Nitta pun pergi tidak kembali lagi.
Malamnya, aku tidak ditemani lagi oleh Irna, dan aku pun SMS Nitta, aku bingung, kenapa dia tidak membalas SMS aku, padahal kalau aku SMS dia langsung membalasnya, aku mulai bertanya-tanya, apa ini efek dari kejadian saat di pesta ulang tahun?
Aku pun menunggu balasan dari Nitta, dan ternyata SMS aku pun dibalasnya, begitu terkejutnya aku ketika melihat SMS Nitta seperti ini :
“Bim, maafin aku ya... aku tau ini berat bagi kamu, tapi aku harus berkata ini padamu, kamu harus lupain aku ya ! aku merasa jadi parasit dalam hubungan kamu, aku gak mau ganggu kehidupan kamu lagi”
Nitta
Sulit dipercaya, ternyata efek itu benar-benar terjadi, kini aku pun harus membuat agar Nitta tidak meninggalkan aku, aku pun mencoba untuk memberi penjelasan padanya, tapi dia tetap bersikukuh untuk tetap meninggalkan aku dan menyuruhku melupakannya.
Aku yang tidak mau kehilangan sahabat terbaik terus mencoba untuk mempertahankannya, tapi usahaku tidak sia-sia, Nitta meminta waktu padaku untuk berpikir, dan aku pun memberinya.
Aku yang masih belum terima dengan semua ini mencoba untuk tenang, aku pun membuka Facebook-ku, dan aku pun kembali kaget dengan apa yang aku lihat di about-me dan status Nitta, disana aku menyadari, bahwa Nitta masih menyayangiku, dia menungguku sekian lama untuk kembali bersamaku. Aku pun terharu melihatnya, aku merasa bahwa selama ini aku menyia-nyiakan kasih sayang yang tulus dari Nitta, tapi aku tidak bisa berbuat banyak, mengingat diriku sudah mempunyai pacar.
Keesokkan harinya, aku meminta jawaban dari Nitta atas pertanyaan yang kuajukan kemarin, dan dia pun masih saja tetap pada pendiriannya, aku pun sedih kehilangan seorang sahabat yang selalu menemaniku disaat aku kesepian, aku pun terus berusaha, dan akhirnya dia berkata :
“Maaf kalau Nitta yang kamu kenal sekarang beda, Mending kamu pikirin aja kenapa aku bisa seperti ini sama kamu”
Nitta
Disana, aku pun mulai memikirkan hal yang membuat Nitta seperti itu, mungkin suatu saat aku akan kembali padanya, mengingat sudah banyak hal yang ia tunjukkan kepadaku bahwa dia masih menyayangiku.
Kini setiap malamku tidak ada lagi yang menemaniku, hanya sebuah MP3 dan Komputer saja yang setia menemaniku.
THE END
Suatu ketika, aku mempunyai seorang pacar yang bernama Irna, aku ditembak olehnya saat diriku masih ingin sendiri, mengingat semua sahabatku mempunyai pacar, ya apa boleh buat? Irna pun aku terima.
Aku menjalani hubungan dengannya sangat baik, dan semua teman-teman pun merestui hubunganku ini. Tiba-tiba, aku teringat dengan seseorang yang dulu pernah aku pacari, yaitu Nitta.
Nitta berpacaran denganku hampir lama, sekitar 3 bulanan, tapi dia tidak melupakan aku, dia masih ingat denganku, aku dan diapun memutuskan untuk sahabatan, dia tidak mau aku menyebut dirinya “Mantan”.
Setelah sekian lama, hubunganku semakin hari semakin buruk, aku seringkali didiamkan olehnya, karena orang tua Irna tidak menyetujui kalau dia berpacaran, aku yang tidak mau didiamkan merasa kesepian. Tapi aku tidak sendiri, banyak teman-temanku yang bisa menggantikan dia untuk saat ini. Meski begitu, aku sendiri ingin ditemani oleh pacarku itu.
Hari pertama aku tidak begitu sepi, tapi lama kelamaan aku bosan juga di beginikan, aku pun mulai tidak betah pacaran dengan Irna, aku pun menceritakan hubunganku ini kepada semua temanku, dan semuanya berpendapat kalau aku harus bersabar dan tetap “positive-thinking”.
Sudah genap sebulan aku dibeginikan, aku makin tidak betah saja, akhirnya aku pun memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Irna, aku pun merasa hatiku dibohongi dengan semua perkataan Irna, tiba-tiba aku kaget ketika Nitta ingin menemani kesepianku ini, aku pun merasa senang mendengarnya.
Nitta setiap hari dan setiap malam sering menemaniku, dan aku merasa tidak kesepian ketika Nitta selalu ada untukku, tapi aku sendiri tidak menyangka akan sifat Nitta yang semakin hari semakin membuat aku bahagia.
Suatu ketika, aku bertemu dengan Irna, Irna berkata bahwa dirinya ingin kembali menjalin cinta denganku, aku yang kebetulan sedang sendiri pun menerima Irna lagi sebagai pacarku, dengan satu syarat dia bisa menemani aku disaat aku membutuhkan perhatian.
Dan ternyata, perkataan Irna kembali hanyalah isapan jempol belaka, dia tetap saja membiarkanku sendiri, aku pun merasa benar-benar dipermainkan oleh Irna, aku pun memberinya peringatan, dan akhirnya dia pun melakukannya.
Keesokan harinya, Irna diundang untuk menghadiri pesta ulang tahun temannya, dan aku pun diajaknya, aku pun senang sekali karena Irna akhirnya mau jalan bareng denganku. Setibanya di rumah teman Irna, aku terkejut melihat ada Nitta disana, awalnya aku hanya mengira dia tidak diundang, tapi ternyata dia juga diundang oleh teman Irna.
Sedikit aku menoleh ke wajah Irna, kelihatannya dia menunjukkan ekspresi yang sangat berbeda, dia menatap tajam Nitta dan menunjukkan rasa benci kepada Nitta, aku pun bertanya kepadanya, dan ia jawab tidak ada apa-apa.
Wajah Nitta terlihat sangat sedih, setiap kali Irna mengajakku berduaan, Nitta pun pergi, dan puncaknya ketika dansa dimulai, Nitta pun pergi tidak kembali lagi.
Malamnya, aku tidak ditemani lagi oleh Irna, dan aku pun SMS Nitta, aku bingung, kenapa dia tidak membalas SMS aku, padahal kalau aku SMS dia langsung membalasnya, aku mulai bertanya-tanya, apa ini efek dari kejadian saat di pesta ulang tahun?
Aku pun menunggu balasan dari Nitta, dan ternyata SMS aku pun dibalasnya, begitu terkejutnya aku ketika melihat SMS Nitta seperti ini :
“Bim, maafin aku ya... aku tau ini berat bagi kamu, tapi aku harus berkata ini padamu, kamu harus lupain aku ya ! aku merasa jadi parasit dalam hubungan kamu, aku gak mau ganggu kehidupan kamu lagi”
Nitta
Sulit dipercaya, ternyata efek itu benar-benar terjadi, kini aku pun harus membuat agar Nitta tidak meninggalkan aku, aku pun mencoba untuk memberi penjelasan padanya, tapi dia tetap bersikukuh untuk tetap meninggalkan aku dan menyuruhku melupakannya.
Aku yang tidak mau kehilangan sahabat terbaik terus mencoba untuk mempertahankannya, tapi usahaku tidak sia-sia, Nitta meminta waktu padaku untuk berpikir, dan aku pun memberinya.
Aku yang masih belum terima dengan semua ini mencoba untuk tenang, aku pun membuka Facebook-ku, dan aku pun kembali kaget dengan apa yang aku lihat di about-me dan status Nitta, disana aku menyadari, bahwa Nitta masih menyayangiku, dia menungguku sekian lama untuk kembali bersamaku. Aku pun terharu melihatnya, aku merasa bahwa selama ini aku menyia-nyiakan kasih sayang yang tulus dari Nitta, tapi aku tidak bisa berbuat banyak, mengingat diriku sudah mempunyai pacar.
Keesokkan harinya, aku meminta jawaban dari Nitta atas pertanyaan yang kuajukan kemarin, dan dia pun masih saja tetap pada pendiriannya, aku pun sedih kehilangan seorang sahabat yang selalu menemaniku disaat aku kesepian, aku pun terus berusaha, dan akhirnya dia berkata :
“Maaf kalau Nitta yang kamu kenal sekarang beda, Mending kamu pikirin aja kenapa aku bisa seperti ini sama kamu”
Nitta
Disana, aku pun mulai memikirkan hal yang membuat Nitta seperti itu, mungkin suatu saat aku akan kembali padanya, mengingat sudah banyak hal yang ia tunjukkan kepadaku bahwa dia masih menyayangiku.
Kini setiap malamku tidak ada lagi yang menemaniku, hanya sebuah MP3 dan Komputer saja yang setia menemaniku.
THE END
Comments
Post a Comment